Teknologi informasi dan komunikasi kian berkembang dengan pesat tanpa batas. Dan hal ini diikuti dengan bermunculannya pelaku usaha berbasis teknologi atau startup.
Tak terkecuali munculnya pengembang (developer) aplikasi mobile games lokal. Mudah dan lancarnya akses internet di Indonesia saat ini telah menciptakan peluang pasar bagi industri aplikasi game yang termasuk ke dalam ekonomi kreatif.
Apalagi dengan masifnya penggunaan ponsel pintar semakin memperbesar peluang usaha bagi para pelaku usaha aplikasi mobile games.
Dari laporan SuperData, didapati bahwa rata-rata pengguna ponsel pintar bermain game mobile tiga kali sehari dengan rata-rata mengkonsumsi waktu 10 menit tiap sesi permainan. Jenis gamesnya sendiri terdapat kecenderungan bahwa game dengan gameplay sederhana, singkat, dan mudah diakses lebih sering dimainkan dibandingkan game yang menawarkan permainan kompleks.
Bicara soal potensi, industri ini akan masih sangat berkembang pesat. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), nilai industri games dalam negeri diperkirakan hampir menembus angka US$700 juta atau sekitar Rp9,3 triliun di akhir tahun 2016. Dan diprediksi akan terdapat peningkatan nilai industri games yang semakin besar di penghujung tahun 2017.
Angka ini seakan menjadi bukti bahwa sejatinya industri ini telah berkembang dengan baik di Indonesia. Perusahaan pengembang aplikasi mobile games juga sudah semakin banyak bertumbuh di Indonesia. Sebut saja Agate Studio dan Touchten Games.
 

Touchten Games

Touchten Games ini didirikan oleh tiga bersaudara yaitu Anton Soeharyo yang berperan sebagai Chief Executive Officer (CEO), Rokimas Soeharyo sebagai Chief OperatingOfficer (COO), dan Dede Indrapurna sebagai Chief Technology Officer (CTO) pada tahun 2009 silam. Berbasis di Jakarta, Touchten tak hanya berperan sebagai publisher tapi juga sebagai developer aplikasi game.
BIsnis yang diawali karena hobi sang founder ini, dibangun dengan sebuah visi untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik melalui games, seperti bagaimana mereka memulai dengan gagasan untuk memulai perusahaan ini. Karena hobi dan passion yang tinggi terhadap games ini membuat ketiga memilih menjadi pengembang aplikasi games dan muncullah inisiatif membuat game pertama mereka yaitu Sushi Chain.
Uniknya, dalam proses pembuatan game pertama ini, mereka sedang terpisah di tiga benua berbeda. Namun karena komitmen yang tinggi akhirnya game pertama Touchten Games yang diberi judul Sushi Chain berhasil dirilis pada tahun 2009. Diluar dugaan, ternyata Sushi Chain berhasil menempati peringkat 25 top overall free App di App Store US. Bahkan game pertama besutan Touchten Games ini pun sukses menempati urutan pertama pada kategori game RPG dan Adventure.
Kini, Touchten telah berhasil membuat lebih dari 15 game berkualitas yang telah dibuat dan berhasil menjadi top 10 di dunia seperti Ramen Chain dan Train Legend. Dari sisi jumlah user sendiri, tercatat ada lebih dari 6 juta user yang ada di situs Touchten. Adanya artikel atau kabar terbaru seputar dunia game secara umum atau seputar game Touchten yang akan rilis menjadi daya tarik agar user tetap setia mengunjungi situs Touchten.

Agate Studio

Sebagai penggemar games, siapa yang tak kenal dengan Agate Studio? Pengembang mobile game asal Bandung ini didirikan sejak tahun 2009 oleh 18 orang pendiri dengan latar belakang yang berbeda. yang Sebagian besar pendiri Agate terdiri dari jebolan ITB jurusan IT dan design.
Agate Studio dibangun dengan visi dan misi untuk membentuk dan membangun perusahaan pembuat game di Indonesia agar dunia menjadi lebih bahagia, baik game yang diperuntukkan untuk marketing, edukasi, periklanan, dan sebagainya. Bahkan, mereka memiliki motto perusahaan ‘Live the Fun Way’ yang ingin agar masyarakat Indonesia khususnya dapat menjalani hidup dengan senang meski dengan himpitan kesibukan masing-masing.
Membangun perusahaan game memang tidak pernah mudah, terlebih di Indonesia. Seperti halnya Agate Studio yang pada fase awalnya para founder-nya rela hanya digaji Rp 50 ribu per orang dengan jam kerja bahkan hingga 15 jam. Pengorbanan yang cukup berat sebagai perusahaan startup. Mereka pun memasang strategi awal agar game buatan Agate Studio dirilis di pasar internasional. Hal Ini tak lain disebabkan oleh animo dan gairah pasar game di Indonesia masih kecil saat itu.
Mereka juga kebanyakan membuat platform game berbasis web. Untuk mengejar ketertinggalan, dalam waktu singkat Agate Studio terus mengembangkan game dan hadir pula di platform mobile berupa aplikasi mobile games. Sejak tahun 2013 Agate telah memproduksi game untuk perangkat Android dan mengembangkan game bertenaga Flash Facebook dan mulai membuat game iOS menyusul meningkatnya popularitas franchise game Angry Birds di tahun 2010.
Agate Studio pun mengenyam kesempatan untuk bekerjasama dengan pengembang game asal Jepang – Square Enix. Square Enix ini terkenal menelurkan sejumlah game populer seperti Final Fantasy, Dragon Quest, dan Kingdom Hearts. Kerjasama Agate Studio dan Square Enix ini terealisasi dalam game Sengoku IXA, game online Football Saga, dan Valthirian Arc.
bac juga
Start Up Halo Doc , AloDokter , Dokter.id
Bisnis Game Online PC, IOS, HP Android Viral Terbaik 2019 Daftar Gratis
900 Pebisnis Start Up Bisnis Digital Di Dalam Dan Luar Negri
 
 
Perjalanan membangun bisnis ini juga tak selamanya mulus. Sempat nyaris bangkrut, di tahun 2016, Agate Studio berhasil meraih investasi sebesar US$1 juta atau sekitar Rp13 miliar dari modal ventura lokal Maloekoe Ventures. Dan kini perjuangannya membuahkan hasil yang manis. Di tahun kedelapan, Agate Studio telah mempekerjakan 110 orang. Agate juga telah menghasilkan lebih dari 200 game dan meraih setidaknya 19 penghargaan, termasuk People Choice Mochi’s Award selama Flash Gaming Summit di San Francisco, Amerika Serikat.

You May Also Like