Terobosan Bisnis Kuliner dari IKEA: Burger Serangga

Undercover.co.id — Dewasa ini, sekitar 30% pelanggan yang datang ke IKEA datang untuk makan-makan. Informasi tersebut membuat raksasa perusahaan furnitur ini mulai menimbang-nimbang untuk memperluas jangkauan bisnis kuliner, seiring dengan laju komersial lini asli mereka. Bahkan wacananya, dalam sepuluh tahun mereka akan membuka lini kafe sendiri.

Apakah kesuksesan lini makanan IKEA adalah hasil kesuksesan yang tidak diduga-duga? Mungkin juga. Namun yang jelas, keputusan untuk membuka tempat makan di sebelah toko furnitur dan peralatan adalah taktik yang benar-benar cerdas.

Logikanya, kegiatan belanja furnitur adalah kegiatan yang dilakukan bersama keluarga dan membutuhkan kerja berat karena harus ‘angkat-angkat’, yang berujung capek—juga lapar.

Tempat makan yang berdiri cuma sepelemparan batu dari tempat parkir dan tempat belanja jelas menjadi pilihan cepat. Apalagi jika kemudian menu yang disajikan enak tidak tanggung-tanggung dengan pilihan yang memukau. Tengok saja menu IKEA Indonesia: paduan nasi kuning, samosa, hotdog, dan macam-macam jus buah serta kopi.

 

Rahasia Sukses IKEA adalah Keterbukaan

Berkaca dari pilihan menu mereka, sebenarnya kita sudah bisa langsung meraba bahwa IKEA memiliki prinsip keterbukaan dan keberagaman yang tinggi.

Nasi kuningg adalah makanan asli Indonesia-Asia Tenggara, tetapi mereka juga menjual hotdog dan gulab jamun yang merupakan penganan internasional. Mereka membaca pasar dan percaya bahwa kultur baru, gagasan baru, adalah vitamin bagi kelanjutan sebuah perusahaan; sesuatu yang sudah sepantasnya semua orang tiru.

(Artikel terkait: Melihat Peluang Usaha Kuliner Jajanan Khas Pasar Rakyat)

Dari lini asli mereka pun, inovasinya sudah kentara. Mebel atau furnitur selalu identik dengan barang-barang yang sudah berupa satu paket dan berat dibawa-bawa. Namun, tidak begitu dengan IKEA. Produk dari perusahaan ini biasa dijual dalam bentuk lempeng dan parts yang belum dirakit beserta sebuah buku manual agar para pembeli bisa memasangnya sendiri di rumah. Karena itulah, mebel-mebel di IKEA biasanya memiliki desain yang tidak biasa.

IKEA sendiri merupakan anagram dari nama pemiliknya; Ingvar Kamvrad, dipadukan dengan tempat tinggalnya, Elmtaryd, dan desanya, Agunnayd. Perusahaan Norwegia ini didirikan ketika Ingvar masih berusia 17 tahun, pada tahun 1943, dan kini menjadikannya salah satu orang terkaya di dunia.

Katalog IKEA tersebar di seluruh dunia; salah satu buku yang pendistribusiannya hanya kalah luas oleh Alkitab. Katalog-katalog itu diperbaharui setiap bulan Agustus, dan menjadi salah satu rujukan dunia mebel.

Raksasa furnitur ini bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk UKM-UKM dengan kearifan lokal di Solo dan Jogja karena tertarik pada sifat kayu kita yang tidak ada duanya di dunia.

 

 

Keterbukaan pada Sains

Namun tak hanya puas mendulang keberagamaan dari segi kultur negara-negara lain, IKEA juga terbuka untuk mengeksplorasi kemungkinan. Setidaknya, dimulai dari sisi kuliner mereka.

Space10, laboratorium inovasi IKEA, memberi kabar bahwa mereka sedang merancang sebuah chain store makanan cepat saji yang hanya menyajikan hidangan vegan dan vegetarian (kedua istilah ini berbeda; dengan vegan lebih menitikberatkan pada pandangan hidup serta sepenuhnya menghindari produk dairy seperti telur dan susu, sementara vegetarian cenderung lebih toleran).

Gerakan ini seperti memberikan lampu hijau bagi kampanye yang sedang banter beberapa tahun ini: penyelamatan bumi dari Pemanasan Global. Ditengarai, produksi dan konsumsi daging yang tinggi oleh masyarakat membuat bumi semakin panas karena lahan yang semestinya dipergunakan untuk hutan dan sawah jadi hilang demi peternakan. Selain itu, ada pula alasan humanisme seperti memedulikan perasaan hewan-hewan ternak yang jadi harus mati demi menjawab kemauan perut manusia.

Maka seolah solusi, IKEA mendengar masalah-masalah itu, dan datang dengan terobosan yang mungkin akan diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain. Laboratorium mereka, Space10 (dengan mottonya: “Laboratorium untuk kehidupan masa depan yang bertujuan untuk merancang kehidupan yang lebih baik dan sustainable”) bahkan sudah mengembangkan daging buatan yang bisa tumbuh dalam tabung, tanpa harus menggorok makhluk hidup lain. Keren, bukan?

Burger Serangga, Roti Ganggang, Es Krim Herbal

Tak tanggung-tanggung, bakal menu ini sama sekali tidak menyinggung penggunaan hewan ternak dalam produk mereka. Semuanya terdengar enak, padahal hanya terbuat dari sayur dan serangga. Tengok saja beberapa di antaranya:

The Dogless Hotdog – Hotdog tanpa daging

Terbuat dari baby carrots (semacam wortel seukuran jari) yang dikeringkan dan dimasak manis, saus dari buah beri dan bit, krim mustard serta ketumbar, bawang panggang, salad mentimun, dan campuran salad dari berbagai rempah dedaunan. Yang paling mengejutkan adalah bahan roti hotdog ini yang konon bukan roti; warnanya hijau, sebab terbuat dari spirulina, micro-algae (ganggang) yang mengandung lebih banyak beta-karotin daripada wortel, lebih banyak klorofil daripada rumput gandum, dan 56x lipat jumlah zat besi daripada bayam.

Bug Burger – Burger Serangga:

Makanan dari masa depan ini menyediakan alternatif daging lain sebagai bahan dagingnya: umbi bit, parsnip, dan mealworms—semacam larva yang baru menetas dari telur kumbang hitam (Tenebrio molitor). Daging burger ini dijepit roti, lalu toppingnya bit dan saus blackcurrant, rajangan bawang daun, ditambah salad hidroponik. Space10 menyeloroh: “Coba gigit satu kali saja, pasti ketagihan.”

The Neatball—Baso:

Yang ini terdiri dari dua versi; satu dari mealworms, satu lagi total vegan alias dari umbi-umbian seperti bit, wortel, dan parsnip.

LOKAL Salad:

Salad ini terasa spesial karena dipanen dari kebun IKEA sendiri. Bahannya dari microgreens (alias kecambah-kecambahan hidroponik) berupa red veined sorrel, brokoli dan taragon, kecambah kacang polong, radish dan daun thyme, lalu borage, red frill mustard, dan lemon balm. Semuanya disajikan dengan saus buatan sendiri dan roti yang baru dipanggang.

Microgreen Ice Cream — Es Krim Herbal:

Dan sebagai penutup bagi hidangan-hidangan di atas, microgreen Ice cream pun hadir. Terbuat dari biji adas, daun basil, dan cilantro, es krim ini dijamin memiliki cita rasa unik. Space10 berkata kita boleh mengombinasikan rasa-rasa tersebut sesuka hati untuk memperoleh rasa yang diinginkan.

Kesimpulan: Jadilah Visioner

Perubahan adalah sesuatu yang bersifat mutlak, dan itu harus kita kenali benar. Cara makan kita sekarang pun jelas berbeda dengan berpuluh tahun lalu; orang zaman Majapahit, misalnya, jelas akan terkagum-kagum melihat segelas es krim. Dan, kemampuan untuk melihat jauh ke masa depan itulah yang saat ini sedang IKEA kembangkan.

Membaca arus pasar dan melihat kemungkinan, dan juga tidak menutup mata terhadap perkembangan masyarakat. Ketika orang-orang lain masih memikirkan cara agar tetap survive dengan model bisnis yang sudah dimiliki, IKEA sudah mengambil langkah terdepan agar ketika nanti kehidupan berubah, mereka sudah lebih dari siap. Singkat kata, mereka tidak menunggu tren—merekalah yang menciptakan tren.

Masih belum ada informasi resmi kapan kita akan melihat produk makanan baru ini muncul di IKEA dekat rumah kita masing-masing, namun tidak akan lama. Nah, berminat mencoba?

Baca juga artikel lain dari kami: Menjajal Bisnis Olahan Tahu Kekinian

You cannot copy content of this page