Perusahaan startup memiliki ‘kasta’ tersendiri yang dibedakan berdasarkan nilai valuasinya, mulai dari level Cockroach, Ponies, Centaurs, Unicorn, Decacorn, hingga yang paling tinggi yaitu Hectocorn.
Setiap perusahaan startup akan naik ke jenjang ‘kasta’ tersebut jika nilai valuasi perusahaan telah mencapai limit-limit tertentu. Dan kali ini kita akan membahas mengenai startup level Decacorn yang menduduki peringkat 5 besar di dunia menurut versi CB Insight, dimulai dari Airbnb di posisi ke-5, berikut ulasannya:

Airbnb

Air bed and breakfast atau Airbnb adalah perusahaan startup asal Amerika yang bergerak di bidang akomodasi penginapan dan penyewaan properti. Melalui platform ini, pengguna dimungkinkan untuk menyewakan properti yang mereka miliki atau pun mencari tempat menginap untuk jangka pendek dengan tarif yang ditentukan oleh pemilik properti. Ada lebih dari 2 juta properti yang tersebar di seluruh dunia telah terdaftar sebagai sarana akomodasi mitra Airbnb.
 
Perusahaan yang berbasis di San Francisco, California ini didirikan oleh Joe Gebbia, Brian Chesky, dan Nathan Blecharczyk pada bulan Agustus 2008, semuanya berawal ketika Gebbia dan Chesky sempat tinggal bersama di sebuah apartemen di Rausch Street, San Fransisco, setahun sebelum mereka mendirikan Airbnb.
Karena biaya sewa apartemen tersebut cukup mahal, mereka berdua akhirnya berinisiatif untuk menyewakan tempat itu kepada para pengunjung yang akan menghadiri konferensi desainer International Council of Societies of Industrial Design / Designer Society of America di San Fransisco.
Dari sini lah ide untuk mendirikan startup yang kini memiliki nilai valuasi mencapai 31 miliar USD itu bermula.
Airbnb sudah melewati berbagai tantangan sulit sejak awal didirikan, mereka sempat mengalami kesulitan finansial terutama untuk pendanaan awal perusahaan mereka.
Kondisi itu akhirnya memaksa mereka untuk mendanai perusahaan mereka sendiri dengan cara berjualan sereal. Dari hasil penjualan tersebut mereka berhasil mengumpulkan dana sebesar 30 ribu USD atau setara 400 juta rupiah.
Tapi sayangnya, uang tersebut ternyata masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pendanaan Airbnb. Akhirnya salah seorang kenalan menyarankan agar mereka mengikuti program akselerator Y Combinator. Melalui pelatihan ini lah mereka berhasil mendapat pemasukan sekitar 1.000 USD atau sekitar 13 juta rupiah setiap minggunya.
Seiring dengan berjalannya waktu, Airbnb berhasil menjadi perusahaan raksasa yang mempelopori lahirnya startup-startup lain di bidang akomodasi traveling dan cerita kesuksesan Airbnb pun masih terus berlangsung sampai sekarang.
 
 

Startup Decacorn  Uber

 
Tak bisa dipungkiri lagi bahwa persaingan ketat di antara perusahaan-perusahaan penyedia jasa transportasi sewaan berbasis digital memang selalu marak terjadi, baik di luar atau di dalam negeri.
Di dalam negeri, pertarungan sengit meliputi dua raksasa Grab dan Go-Jek, dimana keduanya saling salip untuk menyediakan SuperApp yang konon dapat digunakan untuk berbagai macam kebutuhan konsumen.
Seyogianya sebuah kompetisi, hanya yang terbaik yang akan bertahan dan terus berkembang, dan jika progress-nya dinilai cukup mengesankan, nama mereka akan keluar sebagai salah satu perusahaan terbaik di jajaran peringkat nasional atau pun global.
Dalam hal ini, CB Insight telah merilis daftar peringkat startup decacorn dengan nilai valuasi terbesar di dunia, dimana posisi ke-2 saat ini ditempati oleh Uber, salah satu perusahaan rintisan berbasis digital yang menyediakan layanan transportasi online terbesar di dunia dengan nilai valuasinya yang sudah melebihi angka 70 miliar USD.
 
 

UBER Inc

Seperti startup-startup pada umumnya, Uber pun memiliki kisah menarik tentang awal mula perusahaan ini didirikan. Pada tahun 2008 di kota Paris, Perancis, Travis Kalanick bertemu dengan Garrett Camp di sebuah konferensi.
Pertemuan itu terjadi saat kondisi cuaca Paris sedang dingin-dinginnya karena turun salju, suasana tersebut membuat mereka membayangkan sebuah layanan antar-jemput dengan menggunakan aplikasi pada ponsel sehingga memungkinkan siapapun untuk bisa mendapat kendaraan ketika sulit menemukan taxi.
Tapi sebenarnya, ide ini memang sudah muncul jauh-jauh hari sebelum kejadian tersebut. Dalam pertemuan itu, keduanya berbincang dengan para pengusaha lain untuk membangun ide bisnis baru, salah satunya adalah transportasi sewaan berbasis aplikasi. Tapi sayangnya, ide yang dicetuskan Camp ini dianggap masih kurang menarik.
Baik Kalanick ataupun Camp, keduanya memang sempat menjalankan startup mereka sendiri sebelum akhirnya dijual kepada pihak lain. Camp menjual StumbleUpon miliknya kepada eBay senilai 75 juta USD, sementara Kalanick menjual Swoosh kepada Akamai seharga 19 juta USD.
Walaupun idenya masih diragukan, Camp tetap percaya bahwa ide tersebut akan sangat menjanjikan, sehingga akhirnya dia memutuskan membeli domain bernama UberCab.com. Setelah mendengar kabar itu, Kalanick yang masih ‘kenyang’ merasakan kegagalan akibat dua bisnis yang dia jalankan sebelumnya otomatis merasa khawatir dengan usahanya kali ini. Kalanick tidak ingin bisnis yang akan dia jalani kali ini akan kembali berakhir di tengah jalan.
Akan tetapi, Camp berhasil meyakinkan Kalanick, dan UberCap akhirnya resmi didirikan pada bulan Maret 2009. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Oktober 2010, UberCap berganti nama menjadi Uber, karena istilah Cab sendiri merujuk pada taksi, sedangkan mereka sendiri tidak menerapkan lisensi taksi bagi para pengemudi UberCap. Hal ini lah yang sempat dipermasalahkan oleh San Francisco Municipal Transportation Agency selaku pengawas layanan transportasi umum di San Francisco.
Tak lama setelah layanan mereka mulai beroperasi dan sukses menarik perhatian besar dari masyarakat, Uber pun mulai dilirik oleh para investor. Dari yang awalnya hanya bernilai 60 juta USD, kini Uber sudah memiliki valuasi diatas 70 miliar USD, ini sungguh merupakan kesuksesan besar bagi Camp dan Kalanick.
Kendati sudah beroperasi di 300 kota di 58 negara, saat ini Uber tengah menghadapi tantangan besar di pasar global, pasalnya Uber memiliki cukup banyak pesaing tangguh di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Beberapa tahun lalu, Uber bahkan terpaksa harus diakuisisi oleh Grab dan menyingkir dari pasar Indonesia, begitu pula di Tiongkok, Uber harus menerima kekalahan di tangan DiDi. Walaupun begitu, Uber tetap sanggup bertahan hingga sekarang dengan segala kondisi tersebut.
 

Startup Decacorn WeWork

 
Startup decacorn merupakan perusahaan rintisan berbasis digital dengan nilai valuasi diatas 10 miliar USD atau sekitar 140 triliun rupiah. Dari sekian banyak startup di seluruh dunia, jumlah startup yang berstatus decacorn hanya terdapat kurang dari 20 perusahaan, dimana salah satunya adalah WeWork. Berikut ulasannya

WeWork

Startup asal Amerika ini pertama kali didirikan pada tahun 2010 dengan produk utamanya berupa Co-working space atau ruang kerja bersama untuk perusahaan-perusahaan rintisan, pekerja lepas atau freelancer, UKM, dll. Perusahaan ini didirikan oleh Adam Neumann dan Miguel McKelvey setelah keduanya bertemu dan berkenalan di sebuah ruang kerja sewaan di Brooklyn, New York.
Sebelumnya Adam sempat menjalankan bisnis pakaian bayi, selama dia menjalankan usahanya itu, Adam sempat menyewa sebuah ruang kerja. Di tempat ini lah dia mengenal Miguel McKelvey, seorang arsitek yang kebetulan sedang menyewa ruang kerja di tempat yang sama.
Adam melihat ruangan-ruangan di gedung itu kosong, pemandangan tersebut akhirnya menjadi sebuah ide bisnis yang kelak akan bernilai miliaran dolar. Ruangan-ruangan kosong tersebut jika dialih fungsikan menjadi ruang kerja bersama, berpotensi menjadi peluang usaha besar. Setelah keduanya berbincang dan memutuskan untuk menjalankan bisnis bersama, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk meroket seperti sekarang.
 
WeWork menyediakan model ruang kerja dengan konsep yang sederhana tapi tetap terlihat elegan dengan dominasi kaca di setiap ruang kerja. Fasilitas-fasilitas tambahan seperti ruang meeting dan ruang umum juga telah disediakan di setiap gedungnya.
Sejak awal didirikan sampai saat ini, WeWork telah memiliki 335 Co-working space yang tersebar di 83 kota di 24 negara, dimana dua diantaranya terdapat di Jakarta, tepatnya di Sinarmas MSIG Tower di kawasan Sudirman (3 lantai) dan perkantoran premium Revenue Tower di SCBD (5 lantai). Kehadiran WeWork di Indonesia telah menambah keberadaan Co-working space yang mungkin akan sangat dibutuhkan bagi para pelaku bisnis dan kreator lokal.
Berkaca pada Adam Neumann dan Miguel McKelvey serta bagaimana keduanya sukses mendirikan WeWork, dapat disimpulkan bahwa apapun yang ada di hadapan kita bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. Terkadang ide brilian memang bisa muncul dari arah yang tidak disangka-sangka, Semuanya tergantung pada kemampuan kita untuk melihat peluang dan mengolahnya menjadi daya tarik untuk banyak orang.
 

Startup Decacorn  ByteDance

 
Sebelumnya kita sudah sempat membahas tentang startup-startup decacorn dengan nilai valuasi terbesar yang menduduki peringkat teratas di dunia versi CB Insight mulai dari Airbnb di posisi ke-5, WeWork di posisi ke-4, DiDi Chuxing di posisi ke-3, kemudian Uber di posisi ke-2. Lalu, kira-kira siapa yang menduduki peringkat pertama? Simak ulasannya di bawah ini

Beijing ByteDance Technology Co Ltd.

Beijing ByteDance Technology Co Ltd. merupakan perusahaan induk dari berbagai platform dan aplikasi digital yang sudah cukup populer di dunia. TikTok, Xigua Video, Vigo Video, FaceU, Live.me, Toutiao, adalah beberapa anak perusahaan milik ByteDance.
ByteDance sendiri pertama kali didirikan pada tahun 2012 oleh Zhang Yiming, yang sebelumnya sempat menjabat sebagai salah satu direktur di Kuxun, perusahaan travel dan tranportasi asal Cina.
 
Bagaimana Zhang mendirikan dan mengembangkan ByteDance terbilang sangat luar biasa. Bayangkan saja, hanya dalam kurun waktu 6 tahun, ByteDance berhasil menjadi raksasa teknologi, bahkan pencapainnya itu disebut-sebut telah melampaui Facebook, yang berusia dua kali lipat lebih tua dari ByteDance.
Sampai saat ini, nilai valuasi startup asal Tiongkok ini ditaksir sudah mencapai angka 75 miliar USD atau setara 1 kuadriliun rupiah! Berbanding tipis dengan Uber yang bernilai 72 miliar USD.
ByteDance sendiri lebih berfokus pada pengembangan Artificial Inteligence (AI) sebagai fitur utama mereka dalam menciptakan produk-produknya.
Dengan memanfaatkan algoritma dan teknologi pembelajaran otomatis, ByteDance bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang apa yang sedang ramai diminati orang-orang, salah satunya adalah Toutiao, sebuah platform berita yang telah membangun reputasi ByteDance hingga bisa seperti sekarang.
Di Tiongkok, ada lebih dari 120 juta pengguna aktif yang selalu membaca berita melalui platform Toutiao.
Sementara itu, aplikasi TikTok yang merupakan produk terlaris diklaim memiliki lebih dari 500 juta pengguna aktif setiap bulannya, angka ini juga disebut-sebut telah melampaui jumlah pengguna Twitter dan setengah dari pengguna Instagram.
“Tahun lalu, pertumbuhan pengguna internet di Cina hanya 4 persen bila dibandingkan dengan pertumbuhan 17 persen pada tahun sebelumnya. Sementara itu, pengguna aktif TikTok tiap bulannya tumbuh hingga lebih dari lima kali lipat.” ungkap Ke Yan selaku Co-Head Researcher dari Aequitas Research, seperti dilansir melalui Tech in Asia.
Kini, aplikasi apapun yang dihasilkan ByteDance bisa dikatakan hampir selalu berhasil. Dengan segala pencapaian tersebut, para investor semakin yakin bahwa startup ini sangat berpeluang untuk menghasilkan lebih banyak keuntungan di masa mendatang.
 

Startup Decacorn DiDi Chuxing

 
Progres kemajuan bisnis digital penyedia layanan transportasi umum memang sangat luar biasa, maka tak heran kalau startup-startup yang bergerak di bidang transportasi selalu berhasil menduduki peringkat teratas sebagai startup terbesar di dunia.
Di dalam negeri, kita sudah mengenal layanan Grab dan Go-Jek sebagai penyedia jasa transportasi daring yang paling umum digunakan masyarakat.
Tetapi selain dua aplikasi tersebut, masih ada lagi layanan lain yang mungkin masih cukup asing di telinga kita, salah satunya adalah DiDi Chuxing, startup decacorn yang menduduki peringkat ke-3 di dunia setelah WeWork di posisi ke-4 dan Airbnb di posisi ke-5 versi CB Insight.

DiDi Chuxing

DiDi Chuxing adalah perusahaan digital asal Tiongkok yang didirikan pada bulan Juni 2012 oleh Cheng Wei, seorang pengusaha yang sebelumnya sempat bekerja di perusahaan digital raksasa yang juga berasal dari Tiongkok, yaitu Alibaba.
Seperti kebanyakan aplikasi jasa tranportasi daring pada umumnya, DiDi Chuxing menyediakan layanan penyewaan mobil pribadi, berbagi tumpangan, layanan antar barang atau makanan, pemanggilan taxi online, dll.
DiDi Chuxing sendiri dibentuk dari merger DiDi Dache dan Kuaidi Dache, dimana keduanya sempat didanai oleh Tencent dan Alibaba.
DiDi Chuxing awalnya hanya fokus di pasar Tiongkok, tetapi setelah mengalami perkembangan pesat, DiDi akhirnya beroperasi secara global di berbagai negara di dunia seperti Meksiko, Jepang, Brasil, Taiwan, Australia, Hong Kong, dan masih akan terus berekspansi ke negara-negara lainnya.
 
 
Perkembangan perusahaan ini pun sangat mengesankan, hanya dalam kurun waktu 4 tahun sejak pertama kali didirikan, DiDi Chuxing berhasil menguasai pasar Tiongkok di ranah transportasi online.
Menariknya lagi, di waktu yang bersamaan DiDi juga telah berhasil menyingkirkan pesaingnya, yaitu Uber. Cheng Wei meyakini bahwa langkahnya mengakuisisi perusahaan asal Amerika ini dapat membuka ruang potensi yang lebih besar untuk pengembangan bisnisnya.
Berkat perkembangannya yang cukup agresif, sejumlah investor berbondong-bondong menyuntikan sokongan dana besar di perusahaan ini.
 
baca juga
900 Pebisnis Start Up Bisnis Digital Di Dalam Dan Luar Negri
Bisnis Start Up Ala Hijup
 
 
Sejak awal, DiDi memang sudah mendapatkan ‘fondasi’ senilai 6 juta USD lewat merger Kuaidi Dache, melalui proses merger ini lah DiDi mendapat dukungan besar dari Baidu dan Alibaba.
Pada tahun 2016, dominasi DiDi Chuxing semakin tak terbendung setelah Apple Inc menyuntikan dana segar senilai 1 miliar USD atau setara 13,3 triliun rupiah.

You May Also Like