Kegagalan dalam menjalankan suatu perusahaan rintisan berbasis digital bukan lah hal yang aneh di dunia wirausaha, bahkan startup sendiri memang sudah lama terkenal dengan resikonya yang sangat tinggi, hal ini turut tertera dalam definisi lembaga keuangan yang rajin menyuntikan pendanaan ke startup-startup di seluruh dunia, yaitu modal ventura.
Investasi modal ventura ini biasanya memiliki suatu risiko yang tinggi namun memberikan imbal hasil yang tinggi pula.
Selain itu, beberapa pakar yang telah lama memantau perkembangan startup dunia juga turut menyampaikan pendapat-pendapat yang berbanding lurus dengan anggapan tersebut, salah satunya adalah Profesor Thomas R. Eisenmann dari Havard Business School, dirinya menyatakan bahwa usaha rintisan atau startup kebanyakan berakhir gagal.
Kendati demikian, tidak serta-merta semua startup pasti akan berakhir pada kegagalan, nyatanya selalu ada sejumlah faktor pemicu yang menyebabkan startup gagal, mulai dari faktor internal, keterbatasan modal, model bisnis yang tidak menjanjikan, kesalahan analisa, atau bisa saja karena ide yang ditawarkan tidak mampu menarik minat konsumen.
Intinya, kegagalan terjadi karena sebab, bukan semata-mata terjadi tanpa alasan yang pasti. Sebagai bahan pembelajaran agar kita bisa terhindar dari resiko kegagalan, berikut ini adalah rangkuman kisah-kisah kegagalan yang dialami startup besar dari seluruh dunia:
 

Daftar 13 Startup Bangkrut

 
 

Theranos

Kabar mengenai kebangkrutan perusahaan asal Amerika Serikat ini sempat viral di dunia maya, pasalnya, Elizabeth Holmes selaku pendiri Theranos dilaporkan ke pihak berwenang karena dituduh telah melakukan kebohongan publik.
Theranos sendiri merupakan startup kesehatan dengan produk utamanya berupa teknologi pengecekan darah tanpa harus menggunakan jarum suntik.
Akan tetapi, setelah seorang wartawan investigasi bernama John Carreyrou menerima laporan janggal mengenai perusahaan ini, terungkap lah fakta bahwa apa yang ditawarkan Holmes ternyata hanya kebohongan belaka. Alhasil, perusahaan yang telah mencapai nilai valuasi senilai USD 9 miliar ini berakhir gulung tikar.
 
 
 

Melotic

Melotic adalah perusahaan rintisan asal Hong Kong yang menawarkan penukaran aset digital menggunakan bitcoin, pada tahun 2014 mereka sudah sempat mendapatkan pendanaan tahap awal sebesar USD 1,18 juta dari beberapa investor, termasuk salah satunya 500 Startup, tapi sayangnya, pendaan tersebut masih tidak cukup untuk mengembangkan produk seperti yang diharapkan para konsumen.
Alhasil, satu tahun kemudian, tepatnya bulan Mei 2015, Melotic secara resmi mengibarkan bendera putih setelah pertumbuhan pemasukan mereka tidak sanggup lagi menutup biaya operasional mereka.
 
 

Shyp

Startup ini terpaksa harus tumbang setelah kalah saing dengan raksasa transportasi daring Uber di Amerika Serikat. Startup yang bergerak di bidang kurir On Demand (logistik) ini didirikan pada tahun 2013 dan sempat meraih pendanaan senilai USD 62 juta, membuat nilai valuasi perusahaannya menyentuh nilai USD 275 juta.
 

Exiche

Exiche adalah perusahaan rintisan yang menyediakan layanan cuci mobil On Demand sebagai produk utamanya. Startup ini mengalami nasib yang tak jauh berbeda seperti Shyp,
Exiche harus gagal di tengah jalan setelah tersingkir dalam persaingan sengit antara 7 startup dengan layanan serupa di Cina. Padahal, Exiche sempat meraih pendanaan Seri A senilai USD 20 juta atau sekitar 274 miliar rupiah.
 

Everything.me

Startup asal Israel ini sebenarnya merupakan salah satu perusahaan rintisan dengan pendanaan terbesar senilai USD 35 juta atau sekitar 480 miliar rupiah, akan tetapi karena tim Everything.me tak sanggup menemukan model bisnis yang tepat untuk produk mereka, yaitu aplikasi mobile dengan contextual features, akhirnya startup ini harus menghentikan kegiatan operasional.
 
 

Lamido

Lamido sendiri masih termasuk salah satu business group dari Rocket Internet yang beroperasi di wilayah Asia Tenggara.
Startup asal Singapura ini menyediakan layanan marketplace e-commerce sebagai produk mereka. Lamido berakhir setelah tersingkir dari persaingan antara perusahaan-perusahaan e-commerce di Asia Tenggara dan kini statusnya adalah perusahaan merger dari Lazada.
 

ItsOn

ItsOn menyediakan fasilitas smartphone berupa platform cloud sebagai produk utama mereka. Perusahaan ini sebenarnya sudah cukup lama berdiri sejak tahun 2008 dan sempat meraih pendanaan senilai USD 41 juta dengan nilai valuasi perusahaan mencapai USD 243 juta.
 
 
Startup ini awalnya sempat diterima oleh masyarakat luas, akan tetapi persaingan sengit membuat mereka terpaksa harus menyingkir dari pasar.
 
 

Lytro

Senasib dengan ItsOn, startup fotografi yang pertama kali meluncurkan layanannya pada tahun 2016 ini gagal di tengah jalan setelah terlibat persaingan dengan produsen kamera yang lebih senior, padahal dalam kurun waktu yang cenderung singkat sejak awal didirikan, Lytro sudah berhasil meraih pendanaan investor senilai USD 220 juta.
 
 

Abraresto dan Abratable

Abraresto dan Abratable merupakan startup penyedia layanan reservasi dan review restoran dalam negeri yang mengalami nasib sial karena gagal melakukan perencanaan modal, padahal keduanya memiliki jangkauan pasar yang cukup luas meliputi wilayah Indonesia dan Singapura.
Pemicu kegagalan mereka berawal dari keputusan yang cukup beresiko setelah menerima pendanaan dalam bentuk utang, akhirnya hal ini membuat mereka sulit mendapatkan modal lanjutan.
 
 

Valadoo

Startup yang bergerak di bidang akomodasi pariwisata ini mengalami kegagalan akibat kesalahan yang cukup fatal. Founder Valadoo sendiri yang menyampaikan bahwa mereka terlalu fokus dengan pertumbuhan konsumen, sedangkan pengembangan model bisnis jangka panjang untuk produk mereka malah terabaikan.
Hal ini menyebabkan Valadoo mengalami kebangkrutan karena kehabisan dana pada tahap tranformasinya.
 
 

Molome

Sebenarnya Molome sudah mengusung ide bisnis yang dinilai cukup menjanjikan, yaitu platform selfie dengan berbagai macam fitur unik yang bisa ditampilkan secara online, terlebih mereka membidik kawasan Asia sebagai pasar mereka.
Pendiri Molome pun sempat tergabung dengan program akselerator JFDI pada 2014 lalu, tapi karena persaingan di bidang ini memang sangat ketat, terutama untuk mengimbangi Instagram atau Snapchat, akhirnya Molome terpaksa harus berhenti beroperasi.
 
baca juga
Update Fintech Indonesia 2019
Grab Luncurkan Layanan Keuangan
900 Pebisnis Start Up Bisnis Digital Di Dalam Dan Luar Negri
 
 

Juicero

Nasib startup ini bisa dikatakan cukup mengenaskan, bagaimana tidak, hanya dalam waktu 16 bulan sejak pertama kali didirikan, Juicero langsung bangkrut karena melakukan perencanaan bisnis yang kurang matang. Juicero sendiri merupakan produsen alat pemeras buah dan sayur untuk dijadikan minuman.
Yang sebenarnya membuat kegagalan mereka mengenaskan bukan hanya itu, tetapi pendanaan yang sempat mereka raih dari investor besar seperti Google Ventures dan Campbell Soup Company dengan total sekitar 1,5 triliun rupiah. Aroma kegagalan ini mulai tercium setelah Juicero mendapat ulasan buruk dari Bloomberg terkait alat yang mereka ciptakan.

Sprig

Sprig sebenarnya sudah menawarkan konsep bisnis yang cukup menarik, yaitu layanan food On Demand dimana pelanggan bisa mendapatkan makanan yang dimasak sendiri oleh tim ahli masak yang tergabung dalam Sprig kemudian diantar langsung ke tempat pelanggan.
Ide ini bahkan sempat menarik minat 26 investor, dan mereka setuju untuk menanamkan dana mereka di perusahaan ini, total dana yang dikumpulkan ditaksir mencapai 760 miliar rupiah. Akan tetapi, Sprig mengalami permasalahan internal terkait pengelolaan SDM mereka yang berujung pada kebangkrutan.

You May Also Like