Kabar bangkrutnya perusahaan jamu tertua dan terbesar, Nyonya Meneer sangat mengejutkan masyarakat tanah air. Berdiri sejak 1919, perusahaan jamu tersebut tak nampak goyah dari luar, pabriknya memiliki banyak pekerja dan produknya disukai banyak orang hingga mancanegara. Tentu sangat mengejutkan dunia bisnis ketika tiba-tiba perusahaan berlogo wanita bersanggul itu dinyatakan pailit oleh hakim pengadilan negeri.

Namun sebetulnya pailit bukanlah satu-satunya penyebab perusahaan Nyonya Meneer gulung tikar. Ada banyak hal yang terjadi dalam tubuh internal perusahaan yang pasarnya telah mencapai lebih dari 12 negara tersebut. Perusahaan Jamu Cap Potret Nyonya Meneer tersebut ternyata mengalami banyak masalah hingga akhirnya kepailitan meresmikannya tutup dan tak lagi beroperasi.

 

  1. Krisis Panjang

Sebelum dililit banyak hutang, perusahaan jamu Nyonya Meneer mengalami krisis panjang dari tahun 1984 hingga 2000. Selama 16 tahun, perusahaan mengalami banyak masalah operasional akibat perebutan kepemilikan yang terjadi pada generasi ketiga atau cucu dari Lauw Ping Nio alias Nyonya Meneer.

Akibat berebutnya lima orang cucu pada hak waris perusahaan, operasional usaha jamu menjadi berantakan. Padahal saat itu perusahaan Nyonya Meneer tengah berkembang sangat pesat. Masalah bisnis keluarga tersebut bahkan sempat dibawa ke meja hijau.

Perebutan kekuasaan antar cucu Nyonya Meneer kala itu sangat sengit hingga menjadi sorotan nasional. Bahkan dalam Indopos.co.id disebutkan, Menteri Tenaga Kerja saat itu, Cosmas Batubara ikut turut tangan membantu menyelesaikan konflik bisnis keluarga tersebut. Pasalnya, pertikaian antar saudara tersebut telah melibatkan dan berakibat besar pada ribuan pekerja dan buruh perusahaan.

Krisis operasional baru usai ketika salah seorang cucu Nyonya Meneer, Charles Saerang, mengambil alih seluruh perusahaan dengan membeli semua warisan cucu yang lain. Dengannya, berakhirlah pertikaian sedarah dan manajemen perusahaan dapat kembali normal di bawah kepemimpinan Charles Saerang.

 

  1. Banyak Masalah

Selain sengketa keluarga, masalah pekerja juga pernah menggoncang perusahaan Nyonya Meneer. Dikabarkan Merdeka.com, beberapa masalah pekerja tersebut yakni pemogokan dan tuntutan buruh yang berkepanjangan.

“Media pernah mencatat beberapa kali masalah-masalah pekerja dan pemogokan buruh terjadi pada tahun 2000-2001 di perusahaan jamu ini. Di antara lain, penuntutan pembayaran THR, pemogokan kerja, masalah HAM, dan demonstrasi.”

 

  1. Tak Mampu Berinovasi

Berhutang menjadi hal wajar di dalam bisnis usaha. Namun berhutang menjadi masalah ketika perusahaan tak mampu membayarnya. Mengapa perusahaan jamu Nyonya Meneer yang besar itu tak mampu membayar hutang, maka itulah yang jadi pertanyaan.

Menurut Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, perusahaan Nyonya Meneer seharusnya melakukan inovasi agar dapat bertahan dalam persaingan usaha. Ia menyayangkan bangkrutnya Nyonya Meneer padahal perusahaan jamu tersebut akan berusia satu abad pada dua tahun mendatang. “Sejak awal 2000-an sudah ada masalah internal, kepemilikan, dan lain-lain,” ujarnya dilansir tempo.co.

Senada, Direktur Keuangan Sido Muncul, Venancia Sri Indijati menyatakan perusahaannya tak mampu mengakuisisi Nyonya Meneer karena telah dinyatakan pailit. Ia pun menuturkan bahwa kinerja keuangan perusahaan seharusnya bisa ditingkatkan dengan melakukan inovasi. Inovasi pula harus dilakukan perusahaan jamu agar tetap bertahan.

“Produk dia (Nyonya Meneer) beda, jadi kalau mungkin Nyonya Meneer masih bergerak di tradisional jamu, kalau porsi kita kira-kira cuma 15 persen. Sisanya modern seperti tolak angin dan sejenisnya,” ujarnya, dikutip kumparan.

Pun menurut Analis Valbury Sekuritas Indonesia, Nico Omer. Ia menyayangkan perusahaan jamu Nyonya Meneer berujung bangkrut. Padahall industri jamu masih memiliki prospek yang baik asal dapat berinovasi. “Itu sebetulnya menyedihkan karena itu nenek dan buyutnya dari kecil, sekarang pailit sayang sekali. Masih menjanjikan, sektor konsumer di industri jamu itu bisa baik kalau inovatif,” ujarnya kepada akurat.co.

 

  1. Tak Mengikuti Zaman

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro melihat pailitnya perusahaan jamu Nyonya Meneer merupakan hal biasa dalam dunia bisnis. Menurutnya, perusahaan datang dan pergi akibat tuntutan zaman. Suatu perusahaan dapat bertahan jika mampu mengikuti proses perubahan di tengah cepatnya perkembangan dunia modern.

“Di negara maju seperti AS pun banyak perusahaan besar tidak berdaya menghadapi gejala perubahan yang luar biasa dan kemudian menggantikan peran mereka. Kita nggak bisa menyalahkan dunia usaha lesu kalau transaksi tetap berjalan. Kalau soal jamu, kita lihat ada merek lain yang disebut bisa melakukan adjustment dengan baik, keuntungan dan omzet pun meningkat,” ujarnya, dilansir laman Tempo.

 

  1. Kalah Bersaing

Bisnis jamu Nyonya Meneer nampak sehat di luar namun ternyata memiliki penyakit di dalam strategi menjalankan bisnis. Tak adanya inovasi produk dan tak sanggup mengikuti tuntutan zaman menjadikan perusahaan yang berlokasi di Semarang tersebut kalah bersaing dengan produk modern yang inovatif.

Sebagaimana disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional, Dwi Ranny Pertiwi Zarman. Ia mengatakan, industri obat tradisional harus menghadapi persaingan yang tinggi dengan produk domestik dan luar negeri.  Terlebih perusahaan Nyonya Meneer yang juga dihadapkan masalah dengan adanya jamu ilegal.

“Industri jamu seperti PT Nyonya Meneer harus bersaing dengan jamu ilegal. Banyak produk ilegal didistribusikan secara online. Sementara itu, iklan produk legal dikendalikan demi regulasi,” tuturnya kepada Tempo Interaktif.

 

Demikian lima penyebab jatuhnya perusahaan jamu Nyonya Meneer yang akhirnya resmi gulung tikar setelah dinyatakan pailit. Masalah dan tantangan terus dihadapi perusahaan. Namun ternyata puncak masalah pun terjadi dengan menumpuknya hutang yang tak terbayarkan.

Sebagaimana dikabarkan banyak media, PT Nyonya Meneer digugat pailit karena tersangkut hutang dengan 35 kreditur senilai Rp 89 miliar. Dalam Pengadilan Niaga Semarang, kasus tersebut sempat dilakukan perjanjian perdamaian pada tahun 2015 lalu. Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pun dihasilkan.

Namun ternyata PT Nyonya Meneer tak menunjukkan tanda-tanda dapat membayar hutang. Akhirnya, sang kreditur menggugat perusahaan melalui pengadilan negeri. Sidang pun digelar dan hasilnya perjanjian perdamaian dibatalkan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Semarang pada Kamis (3/8/2017) lalu.

“Mengabulkan permohonan pemohon untuk seluruhnya dan menyatakan batal perjanjian perdamaian yang telah dilakukan, serta menyatakan PT Nyonya Meneer dalam keadaan pailit,” ujar hakim ketua, Nani Indarwati dalam amar putusan, dikutip merdeka.com.

Setelah putusan tersebut, semua aset PT Nyonya Meneer dibekukan dan akan dilelang oleh kurator. Hasil lelang ditujukan untuk membayar hutang dan sisanya untuk para karyawan. Perusahaan berusia 98 tahun tersebut benar-benar ditutup dan tinggal kenangan.

Saat ini kondisi pabrik Nyonya Meneer telah sepi tak ada aktivitas berarti. Para karyawan dan buruh sempat menggelar doa bersama karena harus kehilangan mata pencaharian. Pendistribusian produk jamu pun dihentikan. Akibatnya depot-depot jamu mulai kehabisan stok produk Nyonya Meneer.

Cukup menyedihkan jika mengingat usaha Lauw Ping Nio atau Nyonya Meneer saat merintis bisnis di tahun 1990-an, di tengah kesulitan era penjajahan Belanda. Berawal dari obat yang ia racik untuk suaminya, Meneer memulai usaha rumahan dengan menjual jamu tradisional di kalangan kerabat dan tetangga.

Di tahun 1919, Meneer pun berhasil mendirikan perusahaan yang ia beri nama Jamu Cap Potret Nyonya Meneer. Tak hanya memproduksi, ia pun membuka tokonya di Jalan Pedamaran Semarang. Perusahaannya berkembang pesat ketika mendapat bantuan dari putranya, Hans Ramana.

 

baca juga

Campina Es Krim – Bisnis Es Krim Asli Indonesia

Kesuksesan terakhir PT Nyonya Meneer tercatat di tahun 2006. Yakni ketika pemasaran jamu mereka berhasil menembus pasar Taiwan. Tahun-tahun sebelumnya, ekspansi mereka bahkan telah tembus pasar Malaysia, Brunei Darussalam, Australia, Belanda, Amerika Serikat dan lain sebagainya. Perusahaan Jamu Nyonya Meneer begitu sukses selama ini. Karena itulah banyak pihak menyayangkan pailitnya bisnis ramuan tradisional tersebut.

You May Also Like