Cara Tetap Kompetitif di Market yang Padat

Sebutlah macam-macam situs jual beli online yang Anda kenal. Tokopedia, OLX, Shopee, Bhinneka, Lazada, dan lain sebagainya.

Situs jual beli online kini menawarkan fitur yang nyaris sama antara satu dengan yang lain, dengan konten yang bisa dibilang tidak jauh berbeda. Anda dan startup Anda barangkali juga merasakan hal yang sama; sedang berkompetisi di market yang padat.

Lalu bagaimana caranya agar tetap kompetitif di market yang padat? Bagaimana caranya agar tetap meraup keuntungan di tengah persaingan dan banting-bantingan harga?

Lalu bagaimana e-commerce mendapat keuntungan dari penjualan, sementara antara transaksi dari pembeli dan penjual tidak dikenakan biaya apapun?

Achmad Zaky, CEO dari Bukalapak mencoba menjawabnya.

Situs e-commerce mendapatkan keuntungan dari fitur iklan. Hal ini tak berbeda dengan Facebook dengan Facebook Ads-nya, dan Google dengan Google Adwords-nya. Namun, menurut Zaky, yang menjadi perbedaan antara iklan e-commerce dengan iklan di social media ataupun search engine, adalah konversinya yang tinggi.

Apa maksudnya? Maksudnya adalah, bila kita memasang iklan di situs seperti bukalapak, maka audiens yang melihat adalah audiens yang sudah siap membeli. Orang tentu saja membuka situs e-commerce (dalam hal ini, Bukalapak) dengan maksud untuk membeli sesuatu. Mereka sudah punya purchasing power.

Ini tentu saja berbeda dibandingkan dengan beriklan di social media atau mesin pencari, yang mungkin orang mendatanginya dengan maksud hanya untuk bertegur sapa dengan teman atau sekadar mencari informasi. Artinya, rate conversionnya tidak sebesar bila beriklan di e-commerce.

Belum lagi, Bukalapak kini menawarkan harga beriklan yang lebih terjangkau dibandingkan situs e-commerce lain. Ini tentu saja menjadi angin segar bagi para penjual online yang berminat beriklan namun ingin menggunakan modal seefisien mungkin.

Sementara, fitur lain yang ditawarkan oleh Bukalapak, adalah menyediakan fitur premium. Untuk mendapatkan fitur premium, pelapak harus mengeluarkan sejumlah dana. Namun tentu saja fitur premium ini memberikan banyak bantuan dan kemudahan dalam menjual. Misalnya ada data analytic, jadi pelapak dapat menganalisa produk-produk jualannya apa saja yang perlu dioptimasi, mana saja yang sudah bagus, dan lain sebagainya.

Selain itu ada lagi fitur badge; artinya semakin bagus performa pelapak (barang banyak terjual, pembeli banyak yang merasa puas), maka Bukalapak akan memberikan badge sebagai penanda bahwa pelapak tersebut adalah pelapak terekomendasi dan terpercaya.

Fitur lain lagi yang dimiliki Bukalapak adalah tersedianya kebebasan bagi pelapak untuk membuat voucher sendiri. Artinya, pelapak bebas membuat promo sendiri terhadap produk-produk yang ia jual, tanpa terikat dengan promo yang sudah ada dari Bukalapak.

Dari beberapa fitur yang diperlihatkan di atas, tampak jelas bahwa Bukalapak sebenarnya sudah lebih dari siap untuk terus bersaing di pasar e-commerce.

Growth dulu, atau langsung cari profit?

 

Bagi sebuah startup, tentu saja tujuan akhir adalah mendapatkan keuntungan. Namun sebenarnya dalam startup tentu saja tidak mudah untuk langsung mencari profit. Perlu ada perbaikan fitur yang konsisten, update keamanan, promosi tanpa henti, dan lain sebagainya. Makanya, tak jarang dalam dunia startup ada istilah “bakar duit”, alias menghabiskan modal dari investor secara jor-joran sebelum fokus mendapatkan keuntungan.

Tentu hal ini akan mudah bila sudah ada investor dan punya dana besar. Lalu bagaimana dengan startup yang masih tertatih dan belum mendapatkan pemodal? Mana yang perlu didahulukan, growth atau profitable?

Zaky sendiri menjawab bahwa kedua hal ini tidak perlu nenjadi fokus utama. Yang harus menjadi fokus utama dalam membangun startup adalah sustainability. Artinya, startup harus dibangun untuk bertahan dalam waktu yang sangat panjang, dan tetap beradaptasi dengan perkembangan zaman, apapun yang terjadi di masa depan kelak. Baik profit maupun growth, keduanya ada untuk mencapai sustainability.

Zaky melihat keputusan sejumlah startup dalam melakukan “bakar duit” sebagai sebuah keputusan obyektif; harus dilihat case by case. Sebelum startup menghabiskan dana untuk growth, perlu dilihat juga seberapa besar keuntungan yang akan dicapai nantinya. Apabila keuntungan bisa dicapai 100-200%, maka lakukan saja. Namun apabila upaya bakar duit ini hanya menghasilkan keuntungan 10% Zaky menilai keputusan tersebut adalah keputusan yang merugikan. Perlakukan bakar duit sebagai sebuah upaya investasi, lakukan dengan cermat dan hati-hati.

Zaky sendiri beranggapan bahwa semua keputusan yang dilakukan dalam mengembangkan sebuah startup harus didasarkan dengan kebutuhan untuk tetap kompetitif, bukan untuk mengekor atau mengikuti tren dari kompetitor.

Dalam membangun startup, bekerjalah dengan percaya diri, jangan dengarkan suara-suara sumbang dari lingkungan sekitar yang menolak atau tidak mempercayai mimpi.

Sumber: Vikra Ijas

Tips dalam Mencari Partner

Ada sebuah pepatah yang mengatakan,”If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together.

Jika Anda ingin berjalan cepat, maka berjalanlah sendiri. Jika Anda ingin berjalan jauh, maka berjalanlah bersama-sama.

Barangkali Anda punya sebuah ide startup, sebuah ide yang Anda yakin dapat memudahkan manusia dan menjadikan dunia tempat yang lebih baik. Namun yang menjadi halangan adalah Anda tidak punya kemampuan untuk koding. Atau Anda bisa mengkoding, namun tidak punya kecakapan untuk berbicara atau menggaet investor.

Memang tidak mudah mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Semua orang punya keterbatasan. Dengan menggaet tim, maka keterbatasan antara satu dengan yang lain dapat saling dilengkapi.

Tapi tidak mudah untuk membangun tim. Seringkali saat kita menemukan partner, yang didapat justru malah menghambat kemajuan startup. Atau sudah merasa cocok, namun di tengah jalan partner ini berhenti dan meninggalkan startup yang sedang dibangun.

Lalu bagaimana caranya menemukan dan mendapatkan partner yang tepat dalam membangun startup?

Alamanda Shantika, VP of People’s Journey dari Go-Jek, mencoba menjawab pertanyaan terkait hal ini.

Hal pertama yang perlu dilakukan harusnya adalah memiliki business model yang kuat. Visi dan tujuan akhir dari startup haruslah jelas dan kuat, sehingga membuat orang lain tertarik untuk ikut bergabung.

Hal inilah yang dulu dilakukan oleh Nadiem Makarim selaku founder Gojek. Visi Gojek sampai saat ini hanya satu: social impact. Dari Gojek, Nadiem ingin agar startup ini memberikan manfaat bagi berbagai lapisan sosial di masyarakat.

Saat ini, Alamanda menyatakan, bahwa banyak orang tertarik bergabung dengan Gojek karena startup ini sedang hits, startup ini adalah unicorn dari Indonesia. Padahal visi dari Gojek tak pernah berganti: menghidupi banyak orang.

Untuk membangun startup, mulailah dari menemukan alasan. Alasan baik dalam membangun startup adalah yang kelak dapat memberi impak baik kepada banyak orang, memberi manfaat baik pada banyak orang.

Dalam menemukan partner dalam mendirikan startup, Ala cenderung lebih senang bekerja bersama teman. Ini penting karena sudah memiliki “bonding”, dengan pola pikir yang mirip, dan sudah saling kenal. Alamanda sendiri sebelumnya sudah saling mengenal dengan Nadiem, dan cenderung merekrut yang sudah saling kenal. Ini bukan karena teman, namun karena sudah saling mengetahui frekuensi dan pola pikir masing-masing.

Namun tidak masalah apabila akhirnya kelak ingin mencari partner yang profesional, dalam arti sebelumnya tidak saling kenal. Yang paling penting adalah kesepahaman mindset antara satu dengan yang lain, dan setuju dalam satu visi yang sama.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page