indonesiacorporatereview.com – Sore itu, saya bertemu dengan seorang anak muda yang cukup energik dan memiliki semangat luar biasa. Usianya masih sangat muda karena masih duduk di bangku kuliah semester IV sebuah perguruan tinggi negeri di kota pahlawan, Surabaya. Dan yang membuah saya kagum adalah caranya bertahan hidup di kota terbesar kedua setelah Jakarta itu. Ternyata dia, Amir Musada, telah membiayai hidupnya sendiri sejak kelas III SMA hingga saat ini.
 

“Awalnya kepepet. Kalau saya membuka toko, kios, atau apapun lainnya, saya membutuhkan modal besar. Sementara saya hanya seorang mahasiswa yang tidak memiliki apa-apa.”

 
“Apa yang membuat Mas Amir begitu gigih?” tanya saya ketika bertemu di sebuah kedai di kawasan Jalan Ahmad Yani, Surabaya. Pertemuan tersebut berawal dari cerita teman saya (pebisnis UKM) yang mengenal sosok Amir Musada yang unik. Saya pun tertarik dan terjadilah pertemuan itu.
“Hidup itu harus gigih apalagi di kota besar seperti Surabaya ini,” ujarnya.
“Saya memperoleh cerita tentang Mas Amir jika telah mandiri sejak SMA hingga saat ini. Betul itu?” tanya saya.
Amir hanya tersenyum kecil.
“Siapapun ingin mandiri, Dan saya telah mencoba melakukannya,” tukasnya enteng.
“Mas Amir memiliki usaha? Atau jangan-jangan putra seorang pengusaha di Surabaya ini?” tanya saya mencoba mencari tahu.
“Saya anak orang biasa. Bapak saya punya kios kecil di Pasar Atom (pasar kelontong di kawasan Surabaya utara),” jawabnya.
Tetapi jawaban tersebut justru membuat saya semakin penasaran.
“Bagaimana Mas Amir bisa mandiri. Bisa diceritakan?” tanya saya setengah mendesak. Pembicaraan yang hangat itu pun akhirnya mampu mengorek apa saja yang dilakukan anak muda Amir Musada.
“Saya tidak punya usaha seperti layaknya orang-orang yang memiliki toko, coffee, butik, bengkel, dan sebagainya,” katanya.
“Lantas?”
“Saya hanya bermodal kepekaan,” katanya pendek.
Saya merengut sejenak. Modal kepekaan! Ini yang membuat saya geleng kepala.
“Bisa diceritakan lebih detail, modal kepekaan itu apa?” tanya saya lagi dikejar penasaran.
“Awalnya kepepet. Kalau saya membuka toko, kios, atau apapun lainnya, saya membutuhkan modal besar. Sementara saya hanya seorang mahasiswa yang tidak memiliki apa-apa,” jelasnya.
“Jangan merendah,” seru saya sambil tersenyum.
“Betul! Bayangkan, orang mau membuka usaha minimal harus memiliki modal 5 atau 10 juta, baru bisa berputar. Saya dari mana uang sebanyak itu?” lanjutnya dengan semangat.
“Lantas apa yang Mas Amir lakukan?” tanya saya seolah tak sabar.
Sejenak pembicaraan kami terhenti karena seorang pelayan menyuguhkan pesanan.
“Akhirnya, saya putuskan, saya harus berbisnis dengan modal kepekaan, yakni peka melihat momentum,” katanya tegas.
“Modal peka melihat momentum. Bagaimana bisa?”
“Saya sarankan untuk teman-teman yang sedang kuliah, jauh dari orang tua, dan mau kerja keras, Insya Allah, bermodal peka melihat momentum maka akan memperoleh untung lumayan,” tegasnya lagi.
“Bisa dicontohkan, Mas?”
“Bisnis bermodal kepekaan itu ibarat bisnis tanpa modal. Kalaupun ada modal, sangat kecil. Begini, peka melihat momentum itu, peka melihat kebutuhan masyarakat di sekitar kita. Misalnya, sekarang akan Idul Fitri, tentu kebutuhan sarung, sajadah, baju koko tinggi sekali. Nah, ini momentum dan peluang. Yang saya lakukan adalah saya memberanikan diri seolah-olah orang yang memiliki barang tersebut. Padahal kita menjalankan barang milik orang atau grosir yang sudah kita lobby sebelumnya,” jelasnya.
Saya tertegun. Dalam hati bergumam, cerdas juga anak ini.
“Terus? Saya tertarik dengan cara Mas Amir berbisnis. Itu semacam reseller atau dropship. Begitu?” tanya saya sebisanya.
“Kalau reseller kita mencari customer by online. Begitu juga dengan dropship. Itu yang dilakukan banyak orang. Bagi saya, afiliasi dengan dunia internet bagus juga. Tetapi akan lebih bagus lagi apabila customer tersebut adalah orang-orang di sekitar kita. Teman-teman di kampus, sekolah, atau lingkungan kerja,” jawab Amir.
“Artinya, Anda menjalankan dengan door to door?”
“Tidak juga. Kita bisa upload di WA group atau instagram selain langsung mendatangi calon customer. Mungkin hanya modal foto-foto disertai spesifikasi barang maka kita sudah bisa jalan berbisnis,” jelasnya lagi.
“Menarik juga, modal kepekaan,” seru saya.
“Itu kalau musim Idul Fitri. Bayangkan saja, jika musim Idul Adha, Natal, tahun baru, dan momentum-momentum lainnya yang berlangsung di sekitar kita. Intinya, kita peka membaca dan berani menarik kesimpulan atas barang yang dibutuhkan masyarkat atau calon konsumen. Itu saja. Sederhana kan?” simpul Amir Musada.
 
baca juga
 
1000.001 Ide Bisnis UKM Dengan Modal Mulai 100 Ribu
2 Legenda Bisnis Serabi
 
Cukup lama Amir Musaha menjalankan bisnis by momentum tersebut dan terbukti bertahan hingga saat ini. Memang aneh dan tidak lazim di dunia bisnis cara lelaki Surabaya ini. Tetapi siapapun berani melakukan inovasi tentu dialah yang akan menjadi pemenang. Nah! Mulai sekarang, silahkan cermati momentum apa yang sedang trend atau akan terjadi di sekitar Anda? Dan mulailah berbisnis!

You May Also Like