Mengintip Inovasi Startup IoT di IndonesiaTeknologi Internet of Things (IoT) terbukti mampu memaksimalkan penggunaan aplikasi digital untuk membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang kita temukan sehari-hari.
Karena keunggulannya tersebut, sekarang ini mulai bermunculan startup-startup yang turut mengaplikasikan teknologi IoT dalam model bisnis mereka. IoT juga diharapkan mampu meningkatkan daya saing bagi perusahaan-perusahaan rintisan di segala bidang.
Internet of Things sendiri merupakan suatu konsep teknologi yang memungkinkan sebuah objek dapat melakukan transfer data tanpa perlu ada campur tangan manusia, sederhananya, IoT adalah perangkat berbasis internet yang dapat beroperasi secara otomatis.
Internet of Things sudah mengalami perkembangan yang lumayan pesat, mulai dari konvergensi teknologi nirkabel, MEMS (micro-electromechanical systems) dan teknologi-teknologi sensor seperti QR scanner dan lain semacamnya. IoT juga memungkinkan pengguna untuk mengoperasikan berbagai objek dari jarak jauh (remoting).
Lebih jauh, teknologi Internet of Things sudah melahirkan berbagai inovasi bisnis yang bermanfaat bagi kehidupan kita, hal ini lah yang dilakukan sejumlah startup lokal dalam mengembangkan model bisnis mereka. Penasaran seperti apa ide-ide yang mereka kembangkan dengan teknologi IoT ini? Mari kita simak ulasan selengkapnya berikut ini:

HARA

Siapa sangka jika teknologi IoT berbasis Blockchain ternyata bisa juga dimanfaatkan untuk menangani masalah-masalah di sektor riil seperti pertanian dan pangan, inilah inovasi unik yang berhasil dikembangkan oleh startup Hara.
Startup yang didirikan oleh Dattabot ini mampu merevitalisasi sektor pertanian lokal sehingga berbagai kemungkinan yang menghambat pertumbuhannya dapat diantisipasi.
 
 
Dengan inovasi tersebut, startup yang bergerak di bidang data-exchange (pertukaran data) ini berhasil menarik perhatian banyak pihak setelah keluar sebagai finalis di acara internasional bergengsi Blockshow Oscar Europe 2018. Hara juga merupakan satu-satunya startup di Asia yang mengusung teknologi Blockchain di daftar Top 8 startup Blockchain.
Hara menghadirkan aplikasi smartphone yang mampu mengumpulkan data, web-based analytic, serta rekomendasi hasil panen untuk petani. Penerapan aplikasi pertukaran data terdesentralisasi ini dinilai dapat menciptakan dampak sosial yang lebih besar dari sebelumnya.

Qlue

Sejatinya, PT Qlue Performa Indonesia sudah meluncurkan produknya sejak tahun 2014 silam, namun perusahaan Qlue sendiri baru didirikan pada tahun 2016.
Sampai saat ini Qlue telah memiliki sejumlah produk seperti Qluster, QlueVision, QlueSafe, QlueMyCity, dan Qlue-Jek. Qlue memulai debut pertamanya saat bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta dalam program Jakarta Smart City.
Qlue merupakan solusi efektif untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, dengan mengembangkan platform yang dibuat khusus untuk pemerintah dan juga masyarakat, kedua pihak dapat saling berinteraksi untuk mengkomunikasikan situasi dan kondisi terkini yang terjadi di lingkungan sekitar, sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk mewujudkan konsep smart city melalui platform digital.
Belakangan ini, Qlue dikabarkan telah mendapat pendanaan baru dari pemodal ventura MDI Venture. Sayangnya, pihak Qlue tidak memberikan bocoran tentang jumlah investasi yang mereka terima. Pendanaan ini dikatakan akan digunakan untuk mengembangkan kualitas SDM dan bisnis frmi produk IoT yang lebih baik.

Spekun

Spekun (Sepeda Kuning) merupakan produk hasil pemanfaatan teknologi Narrowband Internet of Things (NB-IoT) dalam menciptakan solusi transportasi yang mudah dan ramah lingkungan, project ini tercipta dari kolaborasi antara Telkomsel dengan Universitas Indonesia (UI).
Selain itu, Telkomsel juga menggandeng startup bike sharing Banopolis dan Huawei sebagai pihak penyedia infrastruktur jaringan dan teknologinya.
 
 
 
NB-IoT sendiri merupakan pengembangan teknologi terbaru untuk memungkinkan komunikasi antar mesin/perangkat bisa dilakukan secara lebih besar dan mencakupi jaringan yang lebih luas dari sebelumnya. Sebelumnya, operasional fasilitas bike sharing spekun ini dilakukan secara manual sehingga penggunaannya dirasa masih kurang efisien.
Sampai saat ini, fasilitas yang tersedia baru berjumlah 20 unit sepeda dengan 40 tiang parking-dock, dan akan ditambah secara bertahap sampai 800 unit sepeda pada awal tahun 2020 nanti. Fasilitas Spekun bisa kita temukan di tiga stasiun sepeda, yaitu stasiun UI, Stasiun Pondok Cina, dan satu lagi di perpustakaan UI.

eFishery

Startup asal Bandung ini berhasil memberikan solusi efektif dalam industri perikanan lokal dengan teknologi pengembangan budidaya ikan komersial.
eFishery memiliki produk utama berupa mesin pemberi pakan ikan yang terintegrasi dengan program IoT. Dengan teknologi ini, para peternak ikan bisa melakukan pemberian pakan ikan secara lebih efisien dan minim residu.
Selain bisa memberi pakan secara otomatis, alat ini juga dapat dimonitor secara real-time melalui smartphone, dengan begitu pemberian pakan ikan bisa lebih terkontrol tanpa khawatir over-feeding. Teknologi yang ditawarkan eFishery juga direspon positif oleh masyarakat, sampai-sampai mereka bisa memproduksi sampai 200 unit alat setiap bulannya.
Berkat pencapaiannya itu, pada akhir tahun 2018 lalu eFishery berhasil mendapatkan pendanaan terbesar untuk kategori teknologi agrikultur. Pendanaan ini berasal dari sejumlah lembaga keuangan seperti Maloekoe Ventures, Social Capital, Unreasonable Capital, Wavemaker Partners, 500 Startups, dam beberapa investor lainnya.

Nodeflux

Apa yang ditawarkan Nodeflux sebenarnya masih tergolong baru, yakni teknologi pengolahan big data berupa video dan gambar yang diaplikasikan pada CCTV.
Yang menarik dari inovasi tersebut adalah penggunanya dimungkinkan untuk mendapat informasi tentang jumlah objek dan identitas secara otomatis tanpa perlu dipantau langsung, pengguna hanya perlu melihat laporan yang dikumpulkan oleh program khusus buatan Nodeflux.
Produk tersebut bahkan sudah digunakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di berbagai titik halte bus Transjakarta.
Selain bisa diterapkan pada perangkat CCTV, program ini juga bisa dipasang pada perangkat-perangkat digital lainnya, seperti yang diungkapkan CEO Nodeflux Meidy Fitranto;
“Produk utama kami adalah platform komputasi terdistribusi (Distributed Computation Platform) yang bisa digunakan dalam skala besar. Platform tersebut seperti bisa memberi “otak” kepada berbagai perangkat elektronik, mulai dari CCTV, webcam, hingga smartphone,” kata Meidy, seperti dilansir melalui Tech in Asia.

Cubeacon

Cubeacon merupakan perangkat pemancar Bluetooth yang bisa menyebarkan informasi berupa teks dan video ke perangkat-perangkat mobile yang berada di area sekitarnya, fitur tersebut merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki oleh teknologi iBeacon besutan Apple.
Cubeacon sendiri adalah media implementasi untuk teknologi iBeacon, dan alat ini merupakan produk yang diciptakan oleh startup asal Surabaya, Eyro Digital Teknologi.
Yang menarik dari perangkat ini adalah pengguna dapat mengontrol dan menganalisa data-data yang dikumpulkan Cubeacon melalui semacam software berbasis internet (IoT).
Cubeacon lebih banyak ditargetkan untuk pelaku bisnis, karena alat ini dapat memenuhi berbagai kebutuhan loyalty program, terutama di toko-toko atau supermarket, sebagai contoh, ketika pengunjung datang ke sebuah pusat perbelanjaan, perangkat Cubeacon akan secara otomatis mendeteksi perangkat mobile pengunjung yang berada di jarak jangkauannya kemudian mengirimkan semacam notifikasi untuk menampilkan iklan.
Inovasi tersebut nyatanya bisa sangat berguna untuk kebutuhan promosi atau pemasaran, serta dapat menjembatani interaksi antara pelanggan dan penyedia layanan. Alat ini bisa didapatkan dengan harga dibawah 1 juta dan sudah termasuk akses gratis ke backend software Cubeacon selama tiga bulan.
 
 

Mengintip Inovasi Startup IoT di Indonesia

 
Awal mula konsep Internet of Things (IoT) bisa ditelusuri sejak penemuan mesin pemanggang roti pada tahun 1990 oleh seorang peneliti bernama John Romkey. Pemanggang roti yang dia kembangkan ini bisa dioperasikan melalui internet, kemudian pada tahun 1994, Steve Mann menciptakan sebuah teknologi dengan konsep yang sama, yaitu WearCam.
Dua penemuan tersebut konon merupakan cikal bakal konsep Internet of Things seperti yang kita kenal sekarang. Istilah Internet of Things sendiri pertama kali dipopulerkan oleh Kevin Ashton, seorang Direktur Auto IDCenter dari MIT.
Tak berselang lama sejak Kevin mempopulerkan konsep IoT, mesin dengan sistem Radio Frequency Identification (RFID) juga mulai ditemukan, sejak saat itu, para ahli teknologi berlomba-lomba mengembangkan teknologi dengan konsep IoT.
Konsep Internet of Things bisa diterapkan di berbagai sektor, mulai dari pertanian, energi, transportasi, kesehatan, dll.
Konsep ini juga telah banyak digunakan sebagai model bisnis oleh startup-startup di seluruh dunia, seperti contohnya Cubeacon, eFishery, dan Qlue yang sempat kita bahas pada artikel sebelumnya. Berikut ini adalah sejumlah inovasi IoT yang juga diterapkan startup-startup lainnya:
 

DyCodeX

DyCodeX adalah salah satu anak perusahaan dari DyCode, startup teknologi asal Bandung yang bergerak di bidang software dan konsultan IT, sedangkan DyCodeX lebih difokuskan pada pengembangan hardware dengan konsep Internet of Things.
Salah satu produk unggulan dari DyCodeX adalah semacam alat self-service untuk kebutuhan logistik pengiriman barang. Alat ini juga masih tergolong yang pertama di Indonesia.
Dengan alat ini, pengguna bisa melakukan proses pengiriman barang dengan lebih efisien. Pengguna hanya perlu mengisi formulir pengiriman melalui aplikasi, kemudian setelah barang ditimbang, semua biaya pengiriman akan terkalkulasi secara otomatis dan pembayaran bisa dilakukan lewat payment gateway yang tersedia.
 

 
Produk lainnya yang tak kalah menarik adalah SMARTernak, yaitu layanan pemantauan hewan ternak secara end-to-end mulai dari aktivitas sampai estimasi kesehatan hewan ternak. Inovasi ini juga telah mendapat dukungan penuh dari Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Kementerian Pertanian.

eMagic Indosat

Perusahaan-perusahaan besar juga ternyata tak mau kalah dengan perusahaan rintisan dalam mengembangkan konsep IoT, seperti yang dilakukan Divisi bisnis Indosat Ooreedoo.
Pada tahun 2016 lalu, Indosat secara resmi meluncurkan layanan baru berupa teknologi M2M bernama eMagic (Enhance Managed IoT Connectivity. Solusi ini sangat berguna untuk memudahkan para pelanggan dalam menghubungkan dan mengelola perangkat mereka secara full managed.
Layanan ini sebenarnya lebih diutamakan bagi para pelaku bisnis, karena eMagic dapat mempermudah proses pengelolaan antar mesin tanpa perlu repot-repot melakukan instalasi, pemeliharaan konektivitas atau operasional.
Dengan proses enkripsi data melalui jaringan komunikasi multi akses yang ditingkatkan, gangguan interaksi antar mesin bisa lebih diminimalisir.
eMagic bisa diterapkan di berbagai sektor industri mulai dari ATM, gateway sensor di perusahaan Migas, broadcasting, periklanan, retail dengan live streaming, small branches office, atau industri-indutri lain yang memerlukan proses pertukaran data secara efisien dan aman.

Fox Logger

Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia yang relatif tinggi ini merupakan peluang besar bagi startup Fox Logger. Mereka menyediakan produk unggulan berupa alat pelacak sekaligus pemantau kendaraan dengan memanfaatkan teknologi GPS.
Alat itu memungkinkan pengguna untuk mengetahui lokasi kendaraan mereka secara real time ataupun pada waktu tertentu, semuanya bisa kita dapatkan lengkap dengan durasi tempuh perjalanan dari titik ke titik, kecepatan berkendara, dan juga lokasi pemberhentian kendaraan.
Selain informasi lokasi, dengan alat ini kita bisa mengetahui sisa bensin yang tersedia dan juga kondisi mesin kendaraan apakah sedang dalam keadaan hidup atau mati. Fox Logger bekerja sama dengan Telkomsel untuk menyediakan kartu SIM khusus yang bisa dipasang pada kendaraan. Kartu SIM ini berfungsi untuk mengirimkan data kepada perangkat pengguna.

Konekthing

Sejak didirikan pada tahun 2012 silam, Konekthing telah menciptakan sejumlah produk yang semuanya berbasis teknologi Internet of Things, diantaranya adalah Xlogistik, Edu Tablet, Xchat, Xnething SmartHome, dan Xpajak.
Konekthing sendiri merupakan sebuah platform IoT yang berfokus pada sistem otomatisasi, komunikasi M2M, interoperabilitas, analisis data industri, pengembangan model bisnis baru, dan juga pemeliharaan prediktif dan manufaktur kognitif.
Konekthing juga menawarkan API (application programming interface) untuk pengembangan aplikasi Android pihak ketiga, khususnya bagi para developer yang ingin menerapkan konsep Smart Home.
Dalam hal ini, teknologi yang mereka kembangkan adalah Wireless Sensor Network yang berfungsi untuk mengontrol dan memantau kondisi suatu area yang memiliki sensor jaringan.
Contoh sederhana dari penerapan teknologi tersebut misalnya pengguna dapat mengendalikan penggunaan listrik, sehingga biaya bulanan bisa lebih terkendali secara stabil. Teknologi ini juga nantinya dapat diterapkan pada benda-benda elektronik seperti CCTV atau kulkas pintar, dan segala aktivitasnya bisa dikelola melalui smartphone atau PC.
 
 

Parkirin

Parkirin merupakan solusi yang ditawarkan Telkomsel untuk mengatasi permasalahan tempat parkir, terutama bagi masyarakat di kota-kota besar yang sering kali kesulitan menemukan ruang parkir ketika mengunjungi tempat umum. Parkirin diciptakan melalui kombinasi Internet of Things, aplikasi mobile, dan mobile payment Tcash.
Cara kerjanya pun cukup sederhana, setelah pengguna men-download aplikasi Parkirin melalui Google Playstore atau App Store, pengguna bisa langsung cek ketersediaan tempat parkir di lokasi yang akan dikunjungi. Selain itu, pengguna juga dapat melakukan reservasi tempat parkir dan pembayarannya dilakukan via Tcash.
Seperti dilansir daily social, Manager Business Development & Model Solution Telkomsel Andry Setiawan mengatakan bahwa Parkirin hadir karena Telkomsel ingin mengembangkan inovasi Internet of Things di Indonesia, berhubung saat ini sektor transportasi sangat potensial untuk dikembangkan dengan solusi IoT.

Siramin

Siramin adalah teknologi yang diciptakan sekumpulan mahasiswa UGM Yogyakarta untuk membantu para petani menyiram tanaman secara otomatis, petani hanya perlu mengirim SMS atau menggunakan aplikasis berbasis internet untuk menjalankan perintah penyiraman.
Para petani biasanya membutuhkan waktu 2 jam untuk menyirami tanaman dari total 8 jam kerja dalam sehari, tapi dengan bantuan alat ini, mereka tak perlu lagi membagi waktu untuk menyiram tanaman.
 
baca juga
4 Startup Kesehatan Terbaik di Indonesia
Daftar 13 Startup Besar Yang Bangkrut
900 Pebisnis Start Up Bisnis Digital Di Dalam Dan Luar Negri
 
 
Awalnya, layanan Siramin dirancang untuk dapat diakses menggunakan SMS atau pesan singkat, tapi seiring dengan perkembangannya, Siramin kini bisa diakses menggunakan aplikasi mobile atau pun langsung melalui situs web-nya. Yang menarik dari alat ini adalah salah satu komponen penyusunnya menggunakan papan pengembangan Intel Galileo yang berbasis arsitektur Intel x86.
Ide untuk menciptakan alat ini pertama kali tercetus ketika para mahasiswa UGM yaitu Rifka Aulia Febriani, Resa Masela K, Raditya Candra Buana, Andreas Gandhi HP dan Kukus Setyo Raharjo, mendengar kabar tentang masalah kekeringan dan kesulitan air di salah satu daerah di Gunung Kidul. Akhirnya mereka berupaya menciptakan solusi untuk membantu para petani disana.

You May Also Like